This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, April 16, 2014

ANALISIS BUKU PKn



ANALISIS BUKU

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SD/MI KELAS VI

PENERBIT: BSE (BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK)

PENGARANG: SETIATI WIDIHASTUTI DAN FAJAR RAHAYUNINGSIH




BAB I

NILAI-NILAI PERJUANGAN DALAM PERUMUSAN PANCASILA



Standar kompetensi    :   1. Nilai-nilai perjuangan dalam perumusan Pancasila

Kompetensi dasar       :   1.1 Pancasila sebagai dasar negara

                                      1.2 Nilai-nilai juang dan kebersamaan

                                      1.3 Proses Perumusan Pancasila

                                      1.4 Meneladani nilai-nilai juang dan kebersamaan tokoh

                                      1.5 Mengamalkan nilai-nilai Pancasila

Analisis

A.    Standar Isi

Dalam standar isi, Standar kompetensi untuk PKN kelas VI/1 sebagai berikut :

Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.

Analisis           :

Standar Kompetensi dengan buku sudah sesuai dengan standar isi. Masing-masing materi telah dijabarkan secara mendalam.

Kompetensi Dasar

Antara Kompetensi Dasar dalam Standar Isi dan dalam Buku sudah sesuai. Namun dibeberapa  kompetensi dasar di bahas tiap-tiap materi. Sehingga pemahaman siswa mengenai materi lebih mendalam. Dan berikut analisisnya menurut standar isi:

1.1      Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara

Dalam buku text BSE ini kompetensi dasar 1.1 menurut standar isi dibagi menjadi dua bab. Yaitu pada bab 1 yang berisi pancasila sebagai dasar negara dan pada bab 2 mengenai nilai-nilai juang dan kebersamaan dibalik perumusan pancasila serta bab 3 juga mengandung kompetensi dasar sesuai standar isi dalam buku tersebuttelah sesuai dengan standar isi.

1.2      Menceritakan secara singkat nilai kebersamaan dalam proses perumusan pancasila

Dalam buku text BSE ini kompetensi dasar 1.2 menurut standar isi digabung dengan  Bab 2 yaitu mengenai nilai-nilai juang dan kebersamaan dibalik perumusan pancasila.

Namun meskipun digabung dengan bab 2 yang dianalisis di atas. Namun tidak mengurangi isi dalam materi bab 2 itu sendiri.

1.3      Meneladani nilai-nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses perumusan

Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan sehari-hari

Kompetensi dasar ini tercermin dalam bab 4 dan bab 5. Bab 4 yaitu mengenai meneladani nilai-nilai juang dan kebersamaan para tokoh. Dan bab 5 mengenai mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi.

B.     Civic Knowladge

Buku ajar  BSE ini sudah mengembangkan civic knowladge karena dalam buku ini penjelaskan mengenai pengetahuan berdirinya bangsa Indonesia. Dan kebersamaan serta perjuangan rakyat Indonesia guna memperoleh kemerdekaan yang diakui oleh semua pihak. Dengan pengembangan civic knowladge ini siswa diharapkan mampu memahami mengapa pancasila dipilih sebagai dasar negara dan bagaimana proses perumusannya.

C.     Civic Skill

Pada Bab I ini belum mengembangkan civic skill. Sehingga kemungkinan dapat mengakibatkan ketidakpahaman pada siswa.

D.    Civic Disposition

Buku ajar BSE ini sudah mengembangkan civic disposition karena dalam buku ini siswa diajak untuk mengamalkan dan menerapkan nilai-nilai kebersamaan yang telah dicontohkan oleh pejuang dalam perumusan serta pencapaian mufakat dalam musyawarah menentukan dasar negara yang tepat. Serta mengamalkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercermin siswa yang sesuai dengan tujuan mata pelajaran PKn.

E.     Kegrafikan dalam buku ajar

Kegrafikan sudah sesuai gender perempuan dan laki-laki dalam buku sudah adil dan seimbang atau tidak bias gender. Pada buku ini banyak menjelaskan tokoh dalam perjuangan bangsa. Namun gambar atau foto mengenai masing-masing tokoh masih kurang.


BAB II

SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA


Standar Isi

Standar kompetensi

Memahami Sistem Pemerintahan Republik Indonesia.

Kompetensi Dasar

2.1 Menjelaskan proses pemilu dan pilkada.

2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga Negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen.

2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah.

Analisis:

A.    Standar Isi

1.      Standar Kompetensi yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” materi Sistem Pemerintahan Republik Indonesia sudah sesuai dengan standar isi yaitu Memahami Sistem Pemerintahan Republik Indonesia.

2.      Kompetensi dasar yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI”  materi Sistem Pemerintahan Republik Indonesia sudah sesuai dengan standar isi yaitu:

2.1 Menjelaskan proses pemilu dan pilkada.

2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga Negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen.

2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah.

B.     Civic Knowledge

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab II materi Sistem Pemerintahan Indonesia sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic knowledge, yaitu tentang:

1.      Menjelaskan lembaga-lembaga Negara sesuai amandemen UUD 1945, yaitu:

a.       Mengenal pelaksanaan demokrasi melalui Pemilu dan Pilkada

b.      Menyebutkan lembaga-lembaga negara di Indonesia

c.       Membedakan lembaga legislative, eksekutif dan Yudikatif

d.      Mengenal sistem pemerintahan pusat dan daerah

2.      Menjelaskan tentang pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dalam buku tersebut juga tertulis beberapa istilah-istilah penting,  kuis, pengetahuan tambahan dalam konsep “Tahukah Kalian?”, dan kegiatan yang mengasah pengetahuan siswa. Contohnya:

a.       Istilah

-          Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur pemerintahannya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-indangan yang berlaku.

b.      Kuis

“Perbedaan Pemilu dan Pilkada?”

“Persyaratan pemilih dalam Pemilu?”

“Sebutkan tugas yang diemban oleh Majelis Permusyawaratan rakyat”

C.     Civic Skill

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab II materi Sistem Pemeritahan Republik Indonesia sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic skill, dimana dalam buku tersebut dituliskan beberapa kegiatan yang mengasah kemampuan psikomotor siswa, sebagai contohnya:

“lakukan kegiatan berikut. Tujuannya mengembangkan wawasan kontekstual dan keterampilan social kalian. Ajaklah 3 orang teman kalian untuk berdiskusi. Diskusikan perihal hubungan antarlembaga di Negara kita. Tuliskan hasil diskusi kelompok kalian dalam lembar tugas. Setelah selesai, bacakan hasil diskusi tersebut di depan kelas. Berikan kesempatan kepada teman kalian untuk bertanya ataupun mengomentari hasil diskusi kelompok kalian. Mintalah pula pendapat dari guru terhadap hasil diskusi kalian”.

Dalam kegiatan yang tertulis tersebut siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan psikomotornya untuk berdiskusi dalam kelompok, dan hasil diskusi dibacakan di depan kelas dihadapan guru dan teman-temannya.

D.    Civic Dispotition

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab II materi Sistem Pemeritahan Republik Indonesia sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic dispotiton.

E.     Kegrafikaan:

gambar-gambar yang ada di buku cukup menarik, tapi memang bias gender, mungkin hal ini dikarenakan materi berkaitan dengan sejarah jadi gambar tokoh-tokoh memeng seharusnya seperti kenyataannya.

Menurut kami, sebaiknya gambar- gambar yang dicantumkan berwarna sehingga menarik bagi siswa.


BAB III

PERAN INDONESIA DI KAWASAN ASIA TENGGARA


Standar Isi

Standar Kompetensi:

            3. Memahami peran Indonesia dalam lingkungan negara-negara di                                      Asia Tenggara.

Kompetensi Dasar

            3.1. Menjelaskan pengertian kerjasama negara-negara Asia Tenggara.

            3.2. Memberikan contoh peran Indonesia dalam lingkungan negara-

                           negara di Asia Tenggara.      

Analisis:

A.    Standar Isi

1.      Standar Kompetensi yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah sesuai dengan standar isi yaitu Memahami peranan politik luar negeri Indonesia dalam era globalisasi.

2.      Kompetensi dasar yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah sesuai dengan Standar Isi yaitu:

            3.1. Menjelaskan pengertian kerjasama negara-negara Asia Tenggara.

            3.2. Memberikan contoh peran Indonesia dalam lingkungan negara-

                           negara di Asia Tenggara.

            Yang dijabarkan menjadi 4 tujuan pembelajaran, yaitu:

·         Mejelaskan peran Indonesia melalui ASEAN

·         Menyebutkan tujuan pendirian dan bentuk-bentuk kerja sama.

·         Menjelaskan Peranan Indonesia di Asia Tenggara.

·         Menyebutkan bentuk-bentuk kerja sama Indonesia dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

B.     Civic Knowledge

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah mengarah pada pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic knowledge, yaitu tentang:

a.       Istilah

a.       Deklarasi yaitu pernyataan yang

b.      Netral artinya tidak memihak.

b.      Kuis

c.       Manakah negara yang Kawasan Asia Tenggara memiliki wilayahnya paling                         luas

d.      Mengapa terjadi kemiripan kebudayaan di antara bangsa-bangsa di Asia                 Tenggara?

e. Siapakah orang yang menjabat Sekjen ASEAN pertama?

c.       Tahukah kalian

·         Lambang ASEAN dan maknanya

·         KTT ASEAN terakhir dan Sekjen terbaru?

d.   Materi:

·         Hubungan Indonesia dengan Asia Tenggara dari masa ke masa.

·         Kerjasama Indonesia dengan negara-negara di asia Tenggara sebagai anggota Asean.

                                                                                                              i.            Proses Pembentukan ASEAN

                                                                                                            ii.            Maksud dan tujuan ASEAN

·         Bentuk-bentuk kerja sama ASEAN dalam bidang ekonomi dan sosial budaya.

·         Peran Indonesia di ASEAN

C.     Civic Skill

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic skill, dimana dalam buku tersebut dituliskan beberapa kegiatan yang mengasah kemampuan psikomotor siswa, sebagai contohnya:

1. “Carilah informasi tentang kejayaan kerajaan Majapahit dan peranannya di wilayah Asia Tenggara. Ringkaslah informasi yang kalian dapatkan itu dalam sebuah tulisan satu halaman. Setelah itu serahkan pada guru untuk dinilai! Selamat mengerjakan.”

2. “Selain Indonesia, ada sembilan negara Asia Tenggara yang menjadi anggota ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Pilihlah satu dari sembilan negara tersebut. Carilah data tentang negara yang telah kalian pilih di buku, majalah, atau internet. Tuliskan data tersebut dalam selembar kertas untuk dikumpulkan kepada guru. Selamat mengerjakan.”

D. Civic Dispotition

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic dispotition. Karena ada:

1) pembiasaan:

·                      Belajar dengan tekun

·                     Menjaga kelestarian lingkungan sekitar

·                     Menghargai perbedaan pendapat

·                     Bersikap ramah kepada siapa saja

·                     Menaati peraturan yang berlaku

E.    Kegrafikaan

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” pada unsur kegrafikaan tidak ada bias gender.



BAB IV

PERAN INDONESIA DI DUNIA INTERNASIONAL


Standar Isi

Standar Kompetensi

Memahami peranan politik luar negeri Indonesia dalam era globalisasi.

Kompetensi Dasar

            4.1 Menjelaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

            4.2 Memberikan contoh peranan politik luar negeri Indonesia dalam percaturan internasional.

Analisis:

A.    Standar Isi

1.      Standar Kompetensi yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” bab IV materi Peran Indonesia di dunia Internasional sudah sesuai dengan standar isi yaitu Memahami peranan politik luar negeri Indonesia dalam era globalisasi.

2.      Kompetensi dasar yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” bab IV materi Peran Indonesia di dunia Internasional sudah sesuai dengan standar isi yaitu:

4.1  Menjelaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

4.2  Memberikan contoh peranan politik luar negeri Indonesia dalam percaturan internasional.

B.     Civic Knowledge

Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab IV materi Peran Indonesia di Dunia Internasional sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic knowledge, yaitu tentang:

1.      Menjelaskan pengertian politik luar negeri bebas-aktif Indonesia.

2.      Memahami peranan Indonesia dalam organisasi tingkat internasional, yang memuat:

a.       Peran Indonesia atas terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika.

b.      Peran Indonesia dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

c.       Peran Indonesia dalam Gerakan Non-Blok (GNB).

3.      Menjelaskan peran Indonesia di era globalisasi.

Dalam buku tersebut juga tertulis beberapa istilah-istilah penting,  kuis, pengetahuan tambahan dalam konsep “Tahukah Kalian?”, dan kegiatan yang mengasah pengetahuan siswa. Contohnya:

a.       Istilah

-    Aktif artinya giat atau rajin.

-    Diskriminasi adalah perbedaan perlakuan berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya.


GAYA BELAJAR #2



A.     Pengertian Gaya Belajar
Menurut DePoter & Hernacki (Ary Nilandari, 2004:110) menyatakan sebagai bahwa gaya belajar merupakan kombinasi dan bagaimana anda menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.
Sedangkan menurut Nasution 1995:94) mengemukakan: “gaya belajar adalah cara yang dilakukan seseorang dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat dan berfikir dan memecahkan soal.”
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan gaya belajar merupakan gaya konsisten yang ditunjukkan individu untuk menyerap informasi, mengatur, berfikir, mengingat, dan pemecahan masalah dalam menghadapi proses belajar mengajar agar tercapai hasil maksimal sesuai dengan kemampuan, kepribadian, dan sikapnya.
Banyak ahli yang menggunakan istilah berbeda-beda dalam memahami gaya belajar ini. Tetapi secara umum, menurut Bobby DePotter terdapat dua benang merah yang disepakati tentang gaya belajar ini. Pertama adalah cara seseorang menyerap informasi dengan mudah, yang disebut sebagai modalitas, dan kedua adalah cara orang mengolah dan mengatur informasi tersebut.
Modalitas belajar adalah cara kita menyerap informasi melalui indera yang kita miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan berbeda-beda dalam menyerap informasi. Terdapat tiga modalitas belajar ini, yaitu apa yang sering disingkat dengan VAK: Visual, Auditorial, Kinestetik.
1.     Gaya Belajar Visual
Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak/dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi. Menurut Iim Sudarmi (2006:27) ciri-ciri gaya belajar visual adalah:
1.         Bicara agak cepat,
2.         Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi,
3.         Tidak mudah terganggu oleh keributan,
4.         Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar,
5.         Lebih suka membaca dari pada dibacakan,
6.         Pembaca cepat dan tekun,
7.         Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata,
8.         Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato,
9.         Lebih suka seni lukis daripada seni musik,
10.     Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya,
11.     Sering lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain,
12.     Menjawab pertanyaan dengan singkat.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
1.    Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta,
2.         Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting,
3.         Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi,
4.         Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video),
5.         Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
2.  Gaya belajar Audiotorial
Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
1.      Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri,
2.      Mudah terganggu oleh keributan,
3.      Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca,
4.      Senang mendengarkan dan membaca dengan suara keras,
5.      Mampu mengulangi dan menirukan nada dan suara,
6.      Kesulitan dalam menulis tetapi pandai dalam bercerita,
7.      Kesulitan dalam pekerjaan yang melibatkan visualisasi,
8.      Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya,
9.      Suka mengerjakan tugas kelompok,
10.  Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan.
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
1.      Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga,
2.      Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras,
3.      Gunakan musik untuk mengajarkan anak,
4.      Diskusikan ide dengan anak secara verbal,
5.      Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur,

3.  Gaya belajar kinestetik
Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik adalah:
1.      Menyukai permainan dan olahraga,
2.      Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak,
3.      Berbicara dengan perlahan,
4.      Menanggapi perhatian fisik,
5.      Suka menggunakan berbagai peralatan dan media,
6.      Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka,
7.      Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang,
8.      Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar,
9.      Belajar melalui praktek,
10.  Menghafal dengan cara berjalan dan melihat,
11.  Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca,
12.  Banyak menggunakan isyarat tubuh,
13.  Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama,
14.  Menggunakan kata-kata yang menandung akso,
15.  Menyukai buku-buku yang berorientasi pada cerita,
16.  Kemungkinan tulisannya jelek,
17.  Ingin melakukan segala sesuatu.
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
1.      Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam,
2.      Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru),
3.      Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar,
4.      Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan,
5.      Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
Mengetahui Gaya Belajar Anak
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui gaya belajar ini.
Cara Pertama, adalah dengan menggunakan observasi secara mendetail terhadap setiap siswa melalui penggunaan berbagai metode belajar mengajar di kelas. Gunakan metode ceramah secara umum, catatlah siswa-siswa yang mendengarkan dengan tekun hingga akhir. Perhatikan siswa-siswa yang “kuat” bertahan berapa lama dalam mendengar. Klasifikasikan mereka sementara dalam golongan orang-orang yang bukan tipe pembelajar yang cenderung mendengarkan. Dari sini kita bisa mengklasifikasikan secara sederhana tipe-tipe siswa dengan model-model pembelajar auditori yang lebih menonjol.
Metode lain bisa digunakan, misalnya dengan memutar film, menunjukkan gambar atau poster, dan juga menunjukkan peta ataupun diagram. Dengan proses belajar mengajar seperti ini, kita bisa melihat para siswa yang mempunyai kecenderungan belajar secara visual dan juga mempunyai kecerdasan visual-spasial akan lebih tertarik dan antusias.
Setelah itu, cobalah dengan metode pembelajaran menggunakan praktek atau simulasi. Para pembelajar kinestetik tentu saja akan sangat antusias dengan model belajar mengajar semacam ini. Begitu seterusnya kita melihat bagaimana reaksi siswa terhadap setiap model pembelajaran sehingga lambat laun kita akan lebih mudah memahami dan mengetahui kecenderungan gaya belajar yang mereka.

Cara Kedua, adalah dengan memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan proses penyatuan bagian-bagian yang terpisah, misalnya menyatukan model rumah yang bagian-bagiannya terpisahkan. Ada tiga pilihan cara yang bisa dilakukan dalam menyatukan model rumah ini, pertama adalah melakukan praktek langsung dengan mencoba menyatukan bagian-bagian rumah ini setelah melihat potongan-potongan yang ada; kedua adalah dengan melihat gambar desain rumah secara keseluruhan, baru mulai menyatukan; dan ketiga adalah petunjuk tertulis langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah tersebut dari awal hingga akhir.
Pembelajar visual akan cenderung memulai dengan melihat gambar rumah secara utuh. Ia lebih cepat menyerap melalui gambar-gambar tersebut sebelum menyatukan bagian-bagian rumah secara keseluruhan. Pembelajar auditory cenderung membaca petunjuk tertulis mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah, dan tidak terlalu mempedulikan gambar yang ada. Sedangkan pembelajar kinestetik akan langsung mempraktekkan dengan mencoba-coba menyatukan satu bagian dengan bagian yang lain tanpa terlebih dahulu melihat gambar ataupun membaca petunjuk tulisan. Dari pengamatan terhadap cara kerja siswa dalam menyelesaikan tugas ini, kita akan lebih memahami gaya mengajar siswa secara lebih mendetail.
Cara Ketiga, merupakan cara yang lebih komprehensif yaitu dengan melakukan survey atau tes gaya belajar. Namun demikian, alat survey ataupun tes ini biasanya mengikat pada satu konsultan atau psikolog tertentu sehingga jika kita ingin melakukan tes tersebut harus membayar dengan sejumlah biaya tertentu, yang terkadang dirasa cukup mahal. Namun demikian, karena menggunakan metodologi yang sudah cukup teruji, biasanya survey atau tes psikologi semacam ini mempunyai akurasi yang tinggi sehingga memudahkan bagi guru untuk segera mengetahui gaya belajar siswa.

Hubungan antara Gaya Belajar dengan Kemampuan Siswa
Gaya belajar merupakan cara seseorang dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat dan memecahkan soal. Macam-macam gaya belajar diantaranya gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Apabila seseorang tahu apa jenis gaya belajar yang cocok, hingga dapat mengupayakan dan memanfaatkan gaya belajarnya secara maksimal, maka akan mencapai hasil lebih baik. Setiap siswa memiliki gaya belajarnya masing-masing, hal tersebut dapat mempengaruhi pencapaian suatu hasil belajar. Sedangkan apabila siswa menggunakan cara belajar yang kurang cocok dengan dirinya, maka akan menyebabkan kurang berhasilnya dalam mencapai hasil belajar.
Kesimpulan:
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, diantaranya: gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik.